Selasa, 14 Desember 2010

Perjalanan ke Natuna II

Kurang lebih 2 bulan berlalu, akhirnya dapat info bahwa perusahaan tempat saya bekerja lolos tender. Akhirnya saya dipercaya sebagai supervisor lapangan yang bertugas untuk memimpin teman-teman teknisi yang akan bertugas di Natuna.

Pada bulan Juli saya dan tim saya berangkat ke Natuna. Masih sama dengan sebelumnya, dimana saya harus mampir ke Pontianak terlebih dahulu.
Bedanya, sekarang saya bisa langsung naik pesawat, karena sudah dibuka penerbangan ke Natuna.
Kalau tidak salah, berikut adalah penerbangan-penerbangan yang melayani rute Natuna secara reguler.



1. Riau AirLines (RAL)
Saya kurang tau dengan jadwal RAL.


2. Trigana Air (Berangkat dari Pontianak)
Menggunakan Pesawat jenis ATR, kalau tidak salah berangkat dari Pontianak hari Selasa dan Jumat.
Pada waktu berangkat dari Pontianak ke Natuna, saya menggunakan pesawat ini. Karena pengalaman pertama naik pesawat baling-baling, saya agak was-was, heheheh.. Benar saja, apalagi karena waktu mendarat tidak mulus, pesawat sempet terpental dulu sebelum akhirnya benar-benar mendarat secara mulus. 
Saya sempat berfikir apakah hal ini terjadi pada setiap pesawat baling-baling? Ketika hal itu saya tanyakan ke  kawan saya yang Perwira AU yang sangat paham dunia penerbangan (tentu saja, karena dia Perwira Control di Lanud) , dia jawab seharusnya tidak begitu, karena seharusnya setiap pendaratan harus mulus, karena kalau tidak mulus beresiko merusak Landing Gear.
Kalau tidak salah ingat, harga tiket Trigana Air berkisar antara 600ribu-800ribu rupiah.

3. Wings Air (Berangkat dari Batam, bisa langsung nyambung dari/dengan pesawat Lion Air. Silakan konsultasikan dengan agen travel langganan anda).
Saya kurang paham dengan jadwal Wings Air ini, yang jelas sepengetahuan saya, Wings Air ini berangkat dari Batam. Bisa langsung nge-link dengan Lion Air (tentu saja karena satu grup), untuk keterangan penerbangan Lion Air - Wings Air dari kota anda, silakan konsultasikan dengan agen travel anda.
Saya pulang dari Natuna menggunakan pesawat ini, yang jelas pesawat ini lebih "nyaman" dibanding Trigana. Pendaratannya pun sangat mulus. Berarti saya bisa ambil kesimpulan, apapun pesawatnya minumnya teh botol sosro, eh bukan... apapun pesawatnya, kalau pilotnya handal, pasti nyaman.
Harga tiket untuk penerbangan langsung Lion Air-Wings Air berkisar antara 1,2juta-1,8juta rupiah.

Biaya hidup di Natuna cukup mahal. Sebagai ilustrasi, apabila di Jakarta dengan uang 20ribu rupiah kita bisa makan 3x sehari dengan menu warteg, maka jika di Natuna bisa meningkat hingga 3x lipat, minimal kita butuh antara 75ribu-100ribu dalam sehari.

Oleh karena rencana pekerjaan yang akan memakan waktu lebih dari 1 bulan, maka tim saya arahkan ke sebuah penginapan "sederhana" minim fasilitas, karena apabila saya tempatkan di Hotel, bisa habis anggarannya hanya untuk tempat tinggal. Tarif hotel kurang lebih 250ribu-300ribu rupiah untuk level minim, tapi berAC memang (mungkin jika dibanding di Jakarta, harga segitu sudah oke fasilitasnya).

Saya tidak akan menjelaskan tentang pekerjaan apa yang kami lakukan disana, tapi saya akan lebih menjelaskan tentang "keadaan" alam di sana dari foto yang berhasil saya ambil.

Natuna menurut saya adalah sebuah Pulau Batu yang berukuran sangat besar, tidak terdapat gunung Vulkanik disini, hanya sebuah Gunung Batu setinggi sekitar 1000an meter, atau dikenal dengan gunung Ranai.

Foto di atas merupakan pemandangan Masjid Agung Natuna dengan latar belakang Gunung Ranai. Masjid Agung Natuna merupakan Landmark Pulau Natuna.
Menurut saya pribadi, masjid ini terlalu "agung" jika dibandingkan jumlah penduduk Natuna. Sebagai ilustrasi, pada setiap Shalat Jumat, hanya terisi 6-7 shaf saja. Dan banyak gedung-gedung kosong disamping masjid (mungkin dahulu dimaksudkan sebagai kantor sekretariat.

Kandungan granit dalam batu-batuan Natuna sangat tinggi, namun oleh pimpinan daerah setempat batu-batuan tersebut tidak diizinkan oleh keluar Natuna. Jadi ya jangan heran, jika bahan batu dengan kandungan granit tinggi hanya menjadi bahan fondasi bangunan atau bahan pemadatan jalan.

 Seperti itu batunya jika dilihat dari dekat, dan hanya dijadikan fondasi-fondasi rumah...

Oleh karena waktu saya kali ini di Natuna lebih lama, jadi saya bisa punya banyak waktu untuk mengeksplorasi Pulau ini.

Secara umum, kondisi Pantai di Natuna cukup indah dan alami, namun sayang kurang didukung oleh kesadaran warganya untuk menjaga kebersihan pantainya, saya sering menjumpai sampah-sampah plastik yang berada di pantai, seperti yang saya foto dibawah ini.


Berikut adalah beberapa foto-foto pantai di Natuna yang berhasil saya foto:

Pantai Tanjung:



Pantai tanjung ini terletak di Desa Tanjung, tidak jauh dari "Kota" Ranai, kurang lebih sekitar 10km. Akses jalannya pun sudah aspal.

Pantai ini banyak dikunjungi oleh warga di hari Sabtu-Minggu, bahkan kadang dibuat arena balap liar motor di pasir pantainya.

Pantai berikutnya yang menurut saya sangat bagus dan sangat alami adalah, Pantai Pulau Kambing.
Nama pulau kambing bukan berarti di Pulau terpisah dari Pulau Natuna. Masih di dalam Pulau Natuna, tapi disebut Pulau, karena terdapat sebuah Pulau di Muara sungai tersebut, dan konon dipercaya ada "Penghuni"nya berwujud seekor kambing.

Akses menuju lokasi ini gampang-gampang susah, dari arah Desa Tanjung, masih lurus lagi sampai kurang lebih 20km menuju desa Pengadah. Jalannya pun adalah jalan tanah yang kadang bisa sangat licin jika hujan.


Tapi usaha perjalanan tersebut terbayar dengan pemandangan pasir putih yang membentang luas... Kosong... Seolah-olah ini adalah pantai pribadi kita...




Salah satu spot di Pulau Kambing, disini padang rumput dengan banyak muara dan rawa-rawa di tengahnya, serta gunung Ranai yang menjadi latar belakangnya.


Saya pribadi paling suka dengan gambar di bawah ini, sampai-sampai saya jadikan Wallpaper laptop saya.
Oiya, laut yang digambar tersebut sudah laut lepas menuju ke Laut Cina Selatan.


Jembatan di bawah adalah jembatan menuju Villa milik mantan Bupati Natuna. Bangunan yang anda lihat di sebrang itu merupakan Villa yang dimaksud.

Dan ini gambar-gambar lain yang saya foto di Pulau Kambing.


Dari semua kondisi lingkungan Natuna, saya sampai sekarang masih suka gambar di bawah.
Menurut saya ini kondisi yang paling absurd, mengapa jika tanah disampingnya di kerok sampai habis, tapi hanya disisakan satu pohon saja?
Lokasinya berada di samping Masjid Agung Natuna.


Saya sendiri tidak banyak mengunjungi lokasi lain. Karena saya lebih banyak standby di basecamp untuk mengkoordinir tim saya.
Namun berdasarkan cerita teman-teman tim saya yang sudah menjelajah hingga seluruh pelosok Natuna dan Pulau lain di Natuna, Pulau Natuna ini sungguh eksotis, namun sayang mereka tidak mendokumentasikannya (tentu saja, karena tujuan utamanya adalah bekerja).

Tak terasa sudah 1,5 bulan saya berada di Natuna. Akhirnya saya pun kembali lagi ke Jakarta.

4 komentar:

  1. terimakasih!!! sangat2 senang atas tampilannya, serasa saya yg mbaca seperti berada ditempat. terimakasihnya, sobat!!!

    BalasHapus
  2. mantap infonya...
    bner, klo dibaca jd seperti berada ditempat
    Mas, izin pakai n edit foto yg ke 16 y..yg dijadiin walpaper itu. aku kagum sama fotonya...

    BalasHapus
  3. Terima kasih yang sudah mampir baca dan komen..

    @Aam Tanjung, silakan di download fotonya mas.. terima kasih

    BalasHapus