Thursday 22 March 2012

Tips Untuk Menurunkan Harga Properti

Jika kita lihat saat ini harga Properti (terutama rumah tinggal) selalu merangkak naik. Selalu saja kita dengar "Beli sekarang, besok (bisa besok lusa, atau bisa juga nanti malam) harga Naik", sebaliknya tidak pernah kita dengar: "Belinya besok saja, harga besok turun". Memang, mau tidak mau rumah sebagai salah satu kebutuhan primer harus dipenuhi, tapi ya itu tadi, harga rumah dimana-mana semakin merangkak naik tidak ada yang merosot turun. Meskipun sampai ke daerah pinggiran sub-urban pun (udah sub-urban, pinggiran pula, tinggal nunggu status "coret") harga juga makin mahal.


Kenyataan ini tentu membuat orang-orang dengan penghasilan tak menentu (macam saya ini) menjadi pusing. Mau beli cash, duitnya ga cukup. Mau KPR kebentur dengan syarat-syarat yang cukup memberatkan bagi orang dengan penghasilan tak menentu macam saya ini..


Alhasil harus mutar otak supaya bisa terbeli rumah idaman. Pas lagi sepedahan sore ini, terbesut pikiran berupa hal-hal yang kira dapat menurunkan harga properti. Syukur-syukur ada pihak yang mau merealisasikannya, sehingga saya bisa kecipratan beli rumah yang harganya menurun.


Berikut hasil pikiran saya yang saya rangkum seadanya...


1. Hindari Teknik Promosi dengan Cara "Black Campaign"
Persaingan antar pengembang kini semakin ketat, berbagai cara pun dilakukan supaya menarik perhatian calon pembeli. Mulai dari beli rumah gratis duren selama setahun (eh, ini beneran loh, saya pernah billboardnya di jalan tol cililitan, sebuah komplek perumahan di Sukabumi sana), beli rumah gratis rumah atau hadiah menarik lainnya. Tapi, (menurut saya) jangan sekali-kali melakukan Black Campaign, alih-alih mau menjatuhkan kompetitor, justru akan meningkatkan perhatian calon pelanggan kepada sang kompetitor yang menjadi target Black Campaign tersebut. Lagipula, saat ini dengan segala macam media sebagai acuan referensi, justru akan meningkatkan rasa penasaran orang untuk mencari tahu lebih dalam si kompetitor tadi. Malah jadi sumber promosi gratis.
Ambil contoh Justin Bieber, memang diakui banyak yang tidak suka dengan dia (termasuk saya), tapi sudah cukuplah gak perlu menjelek-jelekkan dia terlalu berlebihan (apalagi di Internet), semakin banyak berita negatif dia, semakin besar publikasi yang dia terima. Hal yang sama terjadi untuk Black Campaign. Ga semua orang itu bodoh kok...
Nah, karena semakin naiknya publikasi yang dia terima dari Black Campaign tersebut, semakin banyak orang yang penasaran, akhirnya justru membuat harga di pengembang yang jadi korban Black Campaign itu semakin merangkak mengikuti publikasi terhadap dia yang semakin merangkak juga.


2. Hindari Cara Kampungan dengan Meneror Warga dengan Cerita Hantu


Trik jaman kolonial ini sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini, terlebih pada zaman program TV reality show bertema horor atau berburu hantu sedang marak. Alih-alih membuat takut warga, justru yang ada malah membuat orang-orang media berdatangan. Hal ini justru makin menarik perhatian banyak orang, terutama orang-orang yang sok berani dan penasaran. Tentunya kesempatan ini tidak akan disia-siakan bagi warga setempat, mulai dari membuat tempat usaha agar para tamu dan media betah (bisa warung makan, toko sovenir, penginapan). Bahkan kesempatan bagi oportunis untuk membeli lahan di wilayah itu untuk disewakan tempat syuting.


3. Mendirikan Pabrik Reaktor Nuklir di Sekitar Wilayah Perumahan


Jika mau bikin semacam pabrik, jangan tanggung-tanggung, sekalian bikin pabrik yang berisiko tinggi, Reaktor Nuklir misalnya. Berdasarkan dari beberapa referensi yang berhasil saya rangkum, mayoritas penduduk Indonesia masih takut atau ragu dengan pembangunan reaktor nuklir di Indonesia, bagaimana tidak, "Jepang yang merupakan negara berkemampuan teknologi, kedisiplinan dalam pengelolaan produk teknologi, minim korupsi saja tak bisa memprediksikan dan menjaga keamanan reaktor nuklir akibat bencana alam. Seberapa kuat dan kompeten ilmuwan, teknokrat, dan birokrat ilmu pengetahuan Indonesia bisa menjamin keselamatan masyarakat dan keamanan reaktor nuklir?" (sumber). 
Nah, (harapannya) jika tiba-tiba ada pembangunan Reaktor Nuklir, warga yang takut dan ragu untuk tinggal di wilayah tersebut mau tidak mau meninggalkan wilayah tersebut daripada terkena dampak negatifnya (daripada berdemo dan bentrok dengan korporasi raksasa tidak ada tanggapannya lebih baik pergi saja). Dengan banyaknya warga yang terpaksa meninggalkan lokasi tempat tinggalnya, tentu akan berdampak kepada menurunnya harga properti. Biasanya banyak yang jual murah, asal cepet laku, yang penting bisa cepet keluar dari wilayah ini, nah jika keadaan ini dibiarkan konsisten seperti ini, maka suatu wilayah tersebut akan turun pasaran propertinya.


4. Meledakkan Reaktor Nuklir di Poin nomor 2.
Jika poin nomor 2 sebelumnya tidak berjalan dengan baik, malah sebaliknya pembangunan reaktor nuklir malah berdampak positif. Lingkungan tempat reaktor menjadi ramai, banyak hunian baru berkembang terutama untuk para pekerja reaktor, banyak tempat-tempat usaha baru di wilayah reaktor untuk mensuport aktivitas para pekerja reaktor.
Gampang, ledakkan saja pabrik reaktor nuklir tersebut sehingga membuat wilayah tersebut menjadi teradiasi. Mau tidak mau agar penduduknya tidak terjangkit radiasi yang lebih parah, harus diungsikan ke tempat yang jauh lebih aman... dengan kata lain dikosongkan...
Mungkin akan teringat tentang Bencana Chernobyl.
Dengan pemukiman yang kosong begini, mungkin tidak hanya dijual murah, tapi gratis. Tapi ya tentu saja anda beresiko menjadi mutan.

5. Menyebar virus Zombie
Masih ingat tentang cerita Resident Evil, yaitu tentang percobaan dari Umbrella Corp yang berbuah bencana. Mengakibatkan sebagian besar penduduk kota Racoon berubah menjadi Zombie dan sebagian lagi mengungsi menyelamatkan diri.

Mungkin ini terlalu jauh... Ngayal kalo kata orang... Terlalu banyak nonton film...

Tapi tunggu sampai anda baca artikel ini... Ya baru ditemukan sejenis jamur parasit yang menginfensi otak semut di daerah Amazon (tropis), merubahnya menjadi dalam keadaan Zombie, mengarahkan tubuh semut tersebut ke daerah yang cocok bagi jamur tersebut untuk berkembang biak di tubuh inang tersebut. Setelah melihat Video ini, ternyata si inang bukan hanya Semut, bahkan bisa jadi serangga-serangga lainnya. Konon, menurut penelitian, perubahan iklim dan menurunnya area Hutan Tropis memperparah (Baca: mempercepat) persebaran jamur tersebut.

Bayangkan jika suatu saat jamur parasit tersebut bermutasi. Tidak hanya menyerang serangga, menyerang hewan lain yang lebih besar dan akhirnya menyerang manusia?

Bayangkan jika perusahaan macam Umbrella Corp itu memang ada dan membuat mutasi jamur tersebut menjadi semakin ekstrim?

Nah jika memang terjadi hal demikian, terutama jika memang ada perusahaan macam Umbrella Corp itu, dan ternyata percobaannya berubah menjadi bencana. Cepat atau lambat nilai properti di sekitarnya akan menjadi turun drastis. Yang masih selamat akan buru-buru meninggalkan huniannya, lagipula siapa juga yang mau tinggal dengan zombie. Nah, jika begini, jangankan properti murah, bahkan anda bisa dapat dengan gratis, tentunya jika anda punya cadangan senjata dan amunisi yang cukup untuk lolos dari serbuan Zombie...

-----------------------------------

Sepertinya baru itu saja pemikiran yang bisa saya rangkum.

Jangan diambil terlalu serius...


Sunday 11 March 2012

Polygon Cyclos

Sebenarnya punya sepeda ini sudah lama.
Dapat dari forum kaskus dengan harga yang cukup terjangkau. Spek awalnya seperti standar pabrikan (Grupset Sora 2x8 dengan crank 52-39).

Awalnya keinginan untuk beli roadbike adalah untuk efisiensi gowes ketika Century Ride (kurang lebih 100km). Saya sudah beberapa gowes 100an km, dan seringnya menggunakan fixed gear saya. Entah bersama Surly, Si Cenul atau dengan City Bike saya. Tapi ketika mudik beberapa waktu lalu dan saya century ride di daerah kampung halaman istri saya dengan menggunakan MTB saya merasa sangat kepayahan, terlebih lagi 2 orang temen gowes saya menggunakan roadbike. Waktu itu PP Blitar - Trenggalek PP menunjukkan 105 km lebih dikit (kalau tidak salah ingat), menggunakan MTB average speed merosot tajam ke 15km/jam (biasanya saya di angka 20km/jam). Memang ada beberapa faktor yang membuat merosotnya average speed saya, terutama karena saya mampir offroad blusukan hutan dulu dan juga jalan pulang yang menanjak. Tapi bagaimanapun sepanjang perjalanan saya menempel temen saya yang roadbike pun tidak, MTB memang tidak diciptakan untuk melawan roadbike, kata saya dalam hati (Beginilah jika fisik tidak mampu, akhirnya menyalahkan benda mati, hahahaha).

Dengan harapan dapat menaikkan average speed ketika gowes century ride, akhirnya sampai di Jakarta saya memutuskan untuk berburu Roadbike, mencari-cari dari forum ke forum, website ke website, bahkan toko ke toko, akhirnya dapat juga (yang sesuai kantong tentunya). Polygon Cyclos tahun lawas.
Dengan sedikit penyeseuaian  (ganti pedal cleat, ganti bar tape, ganti kabel-kabel dan memindah rem depan kiri menjadi kanan).
Setelah dicoba kok, chainring 52 terlalu besar ya buat saya? jujur saya gak kuat menggowes dengan chainring 52 dalam waktu yang agak lama. Akhirnya coba-coba cari crank compact 50-34, tapi sayang saya sudah terlanjur cocok dengan chainring 39.

Diputuskan pakai crankset road Tiagra triple chainring 50-39-30 yang di dapat dari seorang kawan yang baik hati di Jogja. Dengan harapan granny ringnya dapat membantu ketika tanjakan (maklum gak kuat). Beruntung Sifternya bisa untuk triple chainring jadi tidak perlu upgrade sifter yang cukup mahal. Ternyata timbul masalah, setelah crank di pasang, RD dan FDnya tidak cocok. RDnya harus pakai yang medium cage, agar ketika pada posisi chainring kecil dan mata sprocket kecil, ketegangan rantainya jadi tidak pas, terlalu kendur... Setelah mengupgrade RD Sora Shortcage menjadi Tiagra Medium masalah dapat teratasi sementara, karena FDnya harus pakai yang triple. Mencari FD Triple model braze on ini sangat susah dicari. Sudah berkeliling Rodalink seluruh Jakarta (bahkan sampai minta dicarikan di databasenya) dan BAB, hasilnya Nihil. Sempat lihat di forum Sepedaku bahwa salah seorang pedagang parts sepeda serba ada asal bandung pernah jual, langsung saya kontak dia ternyata hasilnya mengecewakan, dia juga kehabisan stok. Saya bilang, kalau misalnya ada lagi tolong di kabari. Selama kurang lebih 2 bulan mencari, sudah hampir putus asa. Apa cari di Ebay saja ya? Setelah dihitung-hitung harga masuk ke Indonesia jadi cukup mahal, saya putuskan untuk menunggu kabar saja lah. Dan akhirnya kabar yang ditunggupun datang, sebuah pesan masuk di HP saya, langsung saja saya pesan dan keesokkan harinya part yang ditunggu-tunggu datang. Lengkap sudah. Sekarang sepedanya sudah cukup nyaman dengan komponen yang sesuai...

Tapi tetap saja Average Speed tidak nambah, hahahahha... Memang salah orangnya...



Spesifikasi:

Frameset : Polygon Cyclos + AHeadset + Carbotech Composite Fork + OEM Seatclamp
Seatpost: OEM 27.2
Stem: Zoom (OEM)
Saddle: Specialized Evolution
Drop Bar: OEM + BBB Bartape
Sifter: Shimano Sora 3x8
Crankset: Shimano Tiagra 50-39-30
RD: Shimano Tiagra Mid Cage
FD: Shimano Tiagra Triple
Cassette: Shimano 8 speed 11-25
Pedal: Shimano Deore AM
Brakeset: Shimano 105 (F) + Tiagra (R)
Wheelset: Rigida DP2000 + Formula Hub + Panaracer (F) / Rigida DP2000 + Shimano Sora Freehub + Kenda.