Sunday 6 July 2014

Jangan Melihat Hanya Dari Satu Sisi

Paman saya suatu ketika pernah berpesan kepada saya, "Jangan melihat suatu objek hanya dari satu fungsi saja, setrika bukan saja cuma buat nyetrika, bisa saja buat ganjel pintu atau nimpuk maling..."

Paman saya (adik terakhir Papa saya) ini memang yang paling dekat dengan saya sejak kecil, selain karena usia yang tidak terpaut jauh, jiwa nyentrik dan humorisnya yang membuat kami dekat. Bahkan saking dekatnya, apabila saya mampir ke Solo tempat Nenek saya, orang kedua yang saya cari setelah Nenek saya adalah Paman saya. Sebagai generasi di atas saya, usia yang lebih tua dan pengalaman yang lebih banyak, tentu saja layaknya seorang Paman yang baik sering berbagi pengalaman ataupun memberi petuah-petuah bijak kepada keponakannya. Dengan bahasa yang jenaka dan konyol tentunya, salah satunya kalimat di atas.

Kalimat tersebut menjadi salah satu pedoman saya dalam menjalani segala kegiatan. Dengan sedikit modifikasi dan penyesuaian sesuai kapasitas saya tentunya. Walaupun bukan "Setrika" sebagai objeknya namun saya perluas menjadi "Jangan Melihat Hanya Dari Satu Sisi"

Loh bagaimana, mata kita kan hanya hanya satu sisi di posisi sudut pandang orang pertama? Ya memang, mata kita memang hanya bisa memandang hanya dari satu sisi sudut pandang orang pertama, tapi apa yang ada di balik mata lah (alias otak kita, pikiran kita), yang bisa membuat kita melihat lebih luas, lebih jauh bahkan lebih tinggi.

Karena dengan melihat sesuatu hal secara lebih luas dari berbagai sisi, kita akan menemukan sesuatu hal tak terduga yang ternyata bisa bermanfaat bagi kita dan orang lain. Tentunya hal yang tak terduga ini harus kita gali dengan segala kemampuan kita, bukan tiba-tiba datang dengan sendirinya. Ya, seperti halnya arkeolog menemukan fosil purbakala di bawah tanah, memang dari dulu fosilnya sudah di situ, tapi kan harus digali dengan segala kemampuan yang ada, bukan tiba-tiba nyembul ke atas tanah.

Saya kasih contoh pengalaman saya:

Masa Perkuliahan:
Saya mengakui bahwa saya bukan termasuk mahasiswa gemilang, prestasi akademis pas-pasan, sering mengulang mata kuliah yang sama, sering membolos juga. Hal tersebutlah yang membuat masa kuliah saya menjadi agak molor dari jadwal yang seharusnya. Teman-teman saya pada masa-masa akhir semesternya pada umumnya sibuk urus skripsi dan menghindari hal-hal yang bersifat organisasi, tapi saya malah aktif berorganisasi dan menjadi ketua organisasi salah satu kegiatan mahasiswa. Banyak kawan yang mencibir saya ngapain sih akhir-akhir semester bukannya persiapan skripsi biar cepet selesai malah urusin organisasi? Maklum, urusan aktif organisasi biasanya banyak dilakukan mahasiswa tingkat awal, dimana nilai idealismenya masih tinggi.
Tapi saya cuek saja karena saya yakin ada hal yang bisa saya benahi dalam organisasi tersebut. Ya memang sih, organisasi selama kepemimpinan saya menjadi lebih baik, keuangan organisasi yang tadinya selalu minus sekarang bisa surplus banyak. Tidak hanya itu saja, ternyata akibat dari kepengurusan organisasi, saya mendapatkan beasiswa dari Dirjen Pendidikan Tinggi.
Coba kalau saya mengikuti arus teman-teman saya yang pada sibuk terpacu pada satu tujuan skripsi, tentu saya tidak akan mendapatkan beasiswa tersebut.

Masa Awal Pekerjaan:
Pekerjaan awal saya adalah sales produk forex. Dimana banyak yang menganggap rendah atau sinis pekerjaan ini. Ya mungkin karena banyak yang menganggap pekerjaan ini tidak digaji, lebih banyak bohongnya daripada benarnya dan hal lain negatif lainnya. Bahkan teman dekat saya sendiri bilang ngapain sih lu kerja beginian?
Tidak saya bekerja pada bidang ini karena saya juga mengambil ilmunya untuk skripsi saya. Dimana saya bisa mengulas lebih banyak, terutama dari sisi hukumnya. Bahkan ketika sidang skripsi, salah satu dosen pengujinya cukup kaget dengan tulisan saya, dia bilang ini menarik karena kebetulan istrinya juga bekerja di bidang yang sama.

Masa-Masa Pekerjaan Yang Lebih Layak:
Tidak lama setelah saya lulus kuliah, saya bekerja di sebuah law firm. Tidak ada cerita menarik yang bisa saya ceritakan, karena memang tidak lama saya bekerja di sana. Saya pindah ke salah satu perusahaan operator telekomunikasi yang beberapa hari lalu sempat diributkan pada Debat Capres. Cara termudah masuk perusahaan ini dengan menjadi karyawan outsource, ya memang cukup banyak karyawan outsource di perusahaan tersebut, bahkan sampai ke divisi yang memegang info vital perusahaan juga diserahkan ke outsource (melalui koperasi ataupun vendor lainnya).
Sebagai karyawan outsource tentu saja saya mawas diri, status kontrak yang singkat yang bisa membuat deg-degan menjelang akhir masa kontrak, gaji yang timpang berkali lipat dengan karyawan permanen di level dan tanggung jawab yang sama.
Seorang kawan di tim saya hampir setiap hari mengeluh mengenai pekerjaan dan statusnya. Mengeluhkan mengenai status karyawan outsource, mengeluhkan tentang gajinya yang timpang, mengeluhkan tentang beban pekerjaannya, ya hampir setiap hari seperti itu. Tapi bagi saya, perusahaan ini terlalu besar untuk dikeluhkan, pasti ada hal lain yang bisa saya eksplorasi. Enaknya bekerja di perusahaan yang sangat besar adalah banyaknya fasilitas pendukung untuk karyawan (baik untuk permanen dan kontrak), misalnya saja sarana fasilitas fitness gratis dan komunitas-komunitas hobby.
Kebetulan saya hobby bersepeda, lalu saya mencoba masuk di dalam komunitasnya. Sambutan dalam komunitas sepeda cukup hangat, bahkan saya juga menjadi inisiator untuk dibuat pengurus komunitas dan memperjuangkan agar-agar programnya dapat diselaraskan dengan program perusahaan. Walaupun di ruang kantor saya hanyalah karyawan outsource level bawah, tapi di luar kantor saya adalah pengurus komunitas sepeda dan komunikasi saya dengan para level Division Head keatas. Tidak hanya itu saja, ketika perusahaan menjadi sponsor acara downhill skala nasional, saya juga mendapatkan sponsor dari kantor, walaupun bertanding tidak mewakili nama kantor.

Tidak lama setelah saya menjadi pengurus saya dibajak oleh salah satu Paman saya yang sedang ada proyek Solar Panel. Kepergian saya dari perusahaan lama sangat disayangkan oleh rekan-rekan komunitas sepeda di perusahaan lama.
Dalam pikiran saya yang namanya dibajak adalah diberi gaji, fasilitas dan tanggung jawab lebih dari pekerjaan saya. Tapi ternyata tidak, saya hanya diberi gaji separuh dari apa yang saya terima di kantor lama, tidak hanya itu saya tidak diberi pekerjaan apapun selama di sana. Awal-awal saya di sana saya hanya datang, baca koran, tidur siang, browsing lalu pulang. Tidak ada hal apapun yang bisa saya kerjakan meskipun saya sudah mencari-cari untuk yang saya kerjakan. Ini adalah penghinaan atas pengalaman dan ilmu saya. Mencari pekerjaan baru tidak semudah membalik telapak tangan. Akhirnya saya banyak mempergunakan waktu nganggur saya di kantor untuk mempelajari mengenai Solar Panel, meskipun hal itu sangat jauh menyimpang dari latar belakang ilmu saya.
Waktu kosong di kantor saya banyak saya gunakan juga untuk mencoba bisnis online. Yaitu berjualan spare part sepeda. Bersyukur juga banyak waktu kosong di kantor, jadi saya bisa menemukan celah-celah supplier dan juga mempertajam ilmu berdagang. Dari berjualan online ternyata cukup banyak hasilnya, jauh lebih banyak dari gaji saya di kantor lama.
Waktu berlalu hingga akhirnya saya membuat badan usaha dengan nama saya sendiri dan membuat usaha sendiri.
Ya, saya memang berterima kasih kepada Paman saya, walaupun diberi gaji yang tidak sesuai, tapi ternyata ada hal lain yang bisa saya kembangkan dan saya temukan dibalik itu. Coba kalau tidak dibajak, mungkin saya tidak mempunyai kesempatan untuk berusaha sendiri.

Masa-masa berwirausaha:
Sambil mencoba bisnis dalam bidang solar panel, saya juga menyambi bisnis cleaning service. Dalam praktek sehari-hari di bisnis cleaning service, saya selalu terjun langsung di dalam pekerjaan. Bahkan sering juga saya ikut menggosok wc bersama anak buah saya. Pernah ada yang bertanya kepada saya, ngapain sampai ikut-ikutan menggosok wc, kan ada anak buahnya tinggal suruh?
Ya memang saya punya anak buah yang bisa saya suruh, tapi di sisi lain saya juga butuh ilmu-ilmu baru karena hal ini tidak pernah saya temui di latar belakang pendidikan dan pengalaman saya. Salah satu cara untuk menyerap ilmu baru itu ya terjun langsung, bersama-sama dengan anak buah saya. Di sisi lain terjun langsung seperti itu akan meningkatkan moral anak buah saya, mereka akan sungkan apabila tidak bekerja maksimal.
Apa yang saya lakukan bukan tanpa hasil, selain saya mendapatkan ilmu baru, sehingga saya dapat menjelaskan secara lebih jelas kepada klien, salah satu klien expatriat saya sangat senang dengan cara kerja saya hingga akhirnya saya diberi pekerjaan dengan nilai dan tanggung jawab yang lebih besar.
Coba seandainya saya hanya menyuruh-nyuruh anak buah saya tanpa banyak terlibat dalam pekerjaannya, mungkin saya tidak akan diberikan tanggung jawab yang lebih besar.



Akhir kata, saya sangat bersyukur, jika saja saya pada waktu itu tidak menjadikan setrika tersebut jadi pengganjal pintu, mungkin saat ini saya masih begitu-begitu saja...